Solusi Parenting – ITB menjadi tempat Astin Nurdiana menanamkan mimpi sejak ia masih remaja di Kebumen Jawa Tengah. Latar belakang keluarga sederhana tidak pernah membuatnya surut melangkah, sebab ayahnya bekerja sebagai tukang kayu sementara ibunya mengurus rumah tangga dengan penuh kesabaran. Dari desa kecil inilah Astin memupuk keyakinan bahwa pendidikan mampu membuka banyak pintu kehidupan. Setiap hari ia belajar dengan tekun, sering kali diiringi keterbatasan fasilitas dan biaya, namun semangatnya tidak pernah padam. Keinginan untuk berkuliah di kampus ternama tumbuh perlahan, didorong oleh prestasi akademik serta dorongan dari orang tua. Ia tidak hanya bermimpi menjadi mahasiswa, tetapi juga ingin suatu hari berdiri di depan kelas sebagai dosen. Keyakinan itu menguat ketika ia mulai mengenal dunia geologi melalui berbagai lomba sains dan pembinaan kebumian, yang kelak menjadi pintu awal menuju perjalanan panjangnya hingga Jepang.
Bakat Geologi yang Tumbuh Sejak Sekolah

Ketertarikan Astin pada ilmu kebumian muncul ketika ia masih duduk di bangku sekolah menengah. Ia mengikuti berbagai kegiatan Olimpiade Sains Nasional dan berhasil meraih medali perak pada bidang kebumian. Prestasi ini tidak datang secara instan, melainkan hasil dari latihan panjang dan rasa ingin tahu yang besar terhadap proses terbentuknya Bumi. Astin merasa bahwa materi kebumian memberi warna baru dalam belajar, berbeda dari pelajaran matematika dan fisika yang kerap membuatnya harus mengikuti kelas tambahan. Dari sinilah rasa cinta pada geologi berkembang pesat. Ia mulai membaca buku buku ilmiah, berdiskusi dengan guru, dan mengikuti pembinaan intensif yang menuntut disiplin tinggi. Lingkungan keluarga yang sederhana tidak menghalangi langkahnya, justru menjadi penyemangat untuk terus melaju. Setiap capaian kecil ia rayakan dengan doa dan tekad untuk menembus kampus impian, yaitu ITB.
“Baca juga: Era Baru Parenting, Ayah dan Ibu Kini Berbagi Peran Tanpa Batas”
Beasiswa Bidikmisi dan Awal Perjalanan di ITB

Masuk ITB merupakan mimpi besar bagi Astin, namun ia sadar bahwa kondisi finansial keluarganya sangat terbatas. Berkat kerja keras dan prestasi, ia berhasil memperoleh beasiswa Bidikmisi yang membawanya menjadi mahasiswa Teknik Geologi di ITB. Di kampus ini, Astin tidak hanya fokus pada perkuliahan, tetapi juga aktif membina adik kelas dan siswa sekolah yang ingin mengikuti OSN kebumian. Ia bahkan rela bepergian hingga Sumatra Utara demi membantu pembinaan. Aktivitas ini memberinya kepuasan tersendiri karena ia merasa dapat berbagi ilmu sekaligus membalas kebaikan banyak orang yang telah membantunya. Kehidupan kampus membuka wawasannya tentang dunia riset, lapangan, dan tanggung jawab sosial sebagai insan akademik. Setiap hari ia mengasah kemampuan berpikir kritis, belajar bekerja dalam tim, dan menyiapkan diri untuk jenjang pendidikan berikutnya yang lebih menantang.
“Simak juga: Bukan Lagi Fiksi, Komputasi Kuantum Siap Mengubah Dunia’
Menembus Jepang dan Menghadapi Tekanan Akademik

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Astin kembali mendapatkan kepercayaan melalui beasiswa Monbukagakusho dari Pemerintah Jepang. Ia melanjutkan studi magister dan doktoral di Tohoku University, salah satu kampus riset ternama di Negeri Sakura. Perpindahan budaya, bahasa, dan sistem akademik menghadirkan tantangan besar baginya. Lingkungan riset di Jepang menuntut ketelitian tinggi, disiplin ketat, serta kemampuan beradaptasi yang cepat. Di tengah kesibukan laboratorium dan tekanan penelitian, Astin sempat mengalami gangguan kesehatan akibat stres psikosomatis, terutama ketika pandemi membuat aktivitas riset terhambat. Namun ia tidak menyerah, sebab tujuan utamanya adalah membawa pulang ilmu untuk mengabdi di Indonesia. Dukungan keluarga dan teman membuatnya kembali bangkit, menata ulang ritme kerja, serta menuntaskan disertasinya dengan penuh kesungguhan hingga akhirnya meraih gelar doktor.
Kembali ke Tanah Air dan Mengabdi untuk Pendidikan

Kepulangan Astin ke Indonesia menjadi momen penuh makna. Ia memilih mengajar di ITB sebagai dosen Teknik Geologi. Ia juga mengembangkan riset sesuai kondisi geologi nasional. Selain mengajar ia aktif mengembangkan Geopark Kebumen. Kawasan ini kini masuk jaringan UNESCO Global Geopark. Peran tersebut mendekatkannya dengan masyarakat pemerintah daerah dan mahasiswa. Astin membawa semangat riset terstruktur dari Jepang. Ia ingin mahasiswa menikmati penelitian yang menyenangkan. Di kelas ia tidak hanya membagikan teori. Ia juga berbagi kisah perjuangan sebagai anak desa berpendidikan global.
Inspirasi bagi Generasi Muda dari Latar Sederhana

Perjalanan hidup Astin memberi inspirasi luas bagi generasi muda Indonesia, terutama mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ia membuktikan bahwa mimpi besar dapat dicapai melalui ketekunan, keberanian, dan kesediaan memanfaatkan peluang seperti beasiswa. Dari Kebumen hingga Jepang, lalu kembali ke ITB sebagai dosen, semua tahapan ia lalui dengan kesabaran. Ia tidak pernah melupakan asal usulnya sebagai anak tukang kayu, bahkan menjadikannya sumber motivasi untuk terus memberi manfaat bagi orang lain. Melalui kegiatan mengajar, riset, dan pengabdian masyarakat, Astin berusaha membuka jalan bagi mahasiswa agar berani melangkah lebih jauh. Kisah ini tidak hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga tentang nilai kerja keras, kerendahan hati, serta keinginan tulus untuk membawa perubahan bagi lingkungan sekitar.
