Solusi Parenting – Mahasiswa UGM kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional melalui prestasi luar biasa dalam ajang Youth Multimedia Arts Competition yang digelar di Bangkok Thailand pada pertengahan Desember 2025. Ajang ini menjadi bagian penting dari peringatan tiga puluh tahun Traktat Bangkok yang menegaskan komitmen Asia Tenggara sebagai kawasan bebas senjata nuklir dan pemusnah massal. Di tengah persaingan ketat dari peserta berbagai negara, sosok Luis Venriko Mumu dari Program Studi Teknik Nuklir tampil menonjol lewat karya seni yang menyentuh dan penuh makna. Ia tidak hanya merebut juara pertama kategori visual arts traditional arts tetapi juga masuk dalam empat peraih grand prize dunia. Pencapaian ini bukan sekadar kemenangan pribadi melainkan cermin peran generasi muda Indonesia dalam isu perdamaian global. Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu berbicara di level dunia dengan gagasan yang kuat dan karya yang relevan dengan tantangan zaman.
Karya When Fear Smiles Menjadi Simbol Harapan Global

Karya berjudul When Fear Smiles menjadi kunci keberhasilan Luis dalam kompetisi bergengsi ini. Melalui medium seni tradisional, ia menyampaikan pesan tentang dunia tanpa senjata nuklir yang penuh harmoni dan bebas dari ketakutan. Visual yang ia tampilkan tidak sekadar indah secara estetika tetapi juga kuat secara naratif sehingga juri menilai karyanya mampu merepresentasikan tema envisioning a world without nuclear weapons secara mendalam. Lukisan ini menggambarkan transformasi rasa takut menjadi harapan melalui simbol simbol kemanusiaan yang mudah dipahami lintas budaya. Keberhasilan karya tersebut membuktikan bahwa seni mampu menjadi bahasa universal dalam menyuarakan isu global. Dalam proses kreatifnya, Luis memadukan latar belakang keilmuan teknik nuklir dengan kepekaan artistik sehingga pesan yang muncul terasa autentik dan relevan. Perpaduan sains dan seni ini membuat When Fear Smiles menonjol di antara ratusan karya peserta dari berbagai belahan dunia.
Mahasiswa UGM Menjadi Representasi Generasi Muda Indonesia

Pada paragraf ini Mahasiswa UGM kembali mendapat sorotan karena peran besar yang dimainkan oleh Luis sebagai duta generasi muda Indonesia. Ia tidak hanya hadir sebagai peserta lomba tetapi juga sebagai pembawa gagasan tentang perlucutan senjata nuklir yang berpihak pada kemanusiaan. Dalam berbagai sesi diskusi dan pertukaran budaya selama kompetisi, ia aktif berbagi pandangan dengan finalis dari Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Sikap terbuka dan kemampuan berkomunikasi lintas latar belakang membuat kehadirannya terasa berpengaruh. Banyak peserta lain terinspirasi oleh cara ia memaknai isu nuklir bukan sekadar sebagai persoalan politik tetapi juga kemanusiaan. Kehadirannya menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu tampil percaya diri di forum internasional dengan gagasan yang matang. Peran ini sekaligus mengangkat citra UGM sebagai kampus yang melahirkan pemimpin muda dengan kepedulian global dan keberanian menyuarakan nilai perdamaian.
Pengalaman Berharga Selama Youth Multimedia Arts Competition

Selama tiga hari penyelenggaraan acara, para finalis mengikuti rangkaian kegiatan yang sangat padat dan bermakna. Mereka menghadiri seremoni penghargaan, pameran seni, hingga kunjungan ke fasilitas nuklir di rumah sakit yang memberi wawasan baru tentang pemanfaatan teknologi nuklir untuk kemanusiaan. Workshop pengembangan keterampilan seni juga menjadi ruang bertukar ide antar peserta dari berbagai negara. Tidak hanya itu, mereka mengikuti diskusi dengan para ahli nuklir yang datang dari kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Pertemuan ini membuka perspektif tentang tantangan nyata dalam isu perlucutan senjata. Di sela kegiatan formal, para peserta juga menjalani sesi pertukaran budaya yang mempererat hubungan personal. Semua aktivitas ini memperkaya pengalaman Luis dan memperdalam pemahamannya bahwa seni dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan nilai kemanusiaan dalam menyuarakan perdamaian dunia.
Kunjungan ke Hiroshima Menjadi Babak Baru Perjalanan Luis

Sebagai salah satu peraih grand prize, Luis memperoleh kesempatan emas untuk mengikuti kunjungan ke Hiroshima Jepang pada tahun 2026. Kunjungan ini akan membawanya ke lokasi bersejarah yang menjadi saksi dampak nyata senjata nuklir terhadap kehidupan manusia. Di sana ia juga akan mengikuti Youth Leader Fund Conference yang mempertemukan para pemimpin muda dari berbagai negara. Forum ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk merancang langkah nyata menuju dunia yang lebih aman. Bagi Luis, kesempatan ini bukan sekadar hadiah tetapi juga tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan perdamaian. Ia memandang perjalanan ke Hiroshima sebagai momen refleksi yang akan memperkuat komitmennya dalam advokasi kreatif. Dengan pengalaman tersebut, ia berharap dapat mengembangkan karya seni yang lebih berani dan menyentuh sehingga pesan perdamaian bisa menjangkau audiens yang lebih luas di masa depan.
Peran Generasi Muda dalam Mendorong Dunia Tanpa Senjata Nuklir

Luis menekankan bahwa generasi muda memegang peran penting dalam menciptakan dunia yang lebih aman. Menurutnya, langkah awal bisa dimulai dengan memperkaya literasi tentang isu global serta melawan arus misinformasi yang sering muncul di media digital. Ia juga mendorong anak muda untuk aktif menyuarakan aspirasi melalui advokasi kreatif yang bertanggung jawab. Keterlibatan dalam bidang kebijakan, teknologi, dan kemanusiaan dinilai sangat penting agar suara generasi muda tidak hanya terdengar tetapi juga berdampak. Melalui platform digital, pesan perdamaian dapat disebarkan lebih luas dan efektif. Dengan memanfaatkan media sosial secara positif, generasi muda Indonesia bisa menjadi agen perubahan yang menularkan semangat dunia tanpa senjata nuklir ke berbagai lapisan masyarakat. Kisah Luis menjadi bukti nyata bahwa satu karya seni dapat membuka pintu dialog global dan menggerakkan kesadaran kolektif.
